PENGENALAN TERHADAP SHALAT LIMA WAKTU SEBAGAI MANISFESTASI IMAN KEPADA ALLAH.

Posted: Januari 8, 2012 in pengenalan terhadap shalat lima waktu

A.     Pengertian  terhadap shalat lima waktu

Secara etimologis, solat berati doa seperti difirmankan allah :

Yang artinya: Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. sesungguhnya doa kamu itu (menjadi)ketentraman jiwa bagi mereka dan allah maha mendengar dan maha mengetahui. (QS. At-Taubah/9:103)

Sedangkan menurut sariah, syara solat adalah menyembah allah Ta’la dengan beberapa perkataan dan perbuatan diawali dengan takbiratul ikh’ram dan diakhiri dengan salam, dan wajib melakukan pada waktu-waktu yang telah ditentukan

Menurut imam gozali, makna batin dalam solat memili banyak ungkapan, namun terangkum dalam 6 perkara yaitu kehadiran hati, tafahum (kepahaman) takjim (rasa hormat), haibah (rasa takut yang bersumber dari rasa hormat), raja’(pengharapan), dan haya (rasa malu), kehadiran hati, maksudnya menggosongkan dan menjaga dialog hati dari segala sesuatu yang tidak ada hubungana dengan amalan yang sedang di kerjakan. juga pikirannya tidak boleh memantaui dari selain perbuatan dan hati, yang sedang terkait dengan amalan.

Tafahum (kepahaman) berati peliputan hati terhadap pengetahuan lafadz dan gerak dalam solat. pengetahuan dalam ucapan shalat, gerak dalam yang terbenam dalam lubuk hati akan memancarklan sebuah hikmah akhlakul karimah dalam kehidupan. dalam lafacz dan gerak yang terkontrol oleh kehadiran hati akan dapat mengendalikan pikiran dan akal dalam setiap ucapan dan gerak itu sendiri. terapi unuk tafahum adalh menghadirkan dalam hati diseratai konsentrasi berfikir dan kesiagaan untuk menolak baerbagai lintasan pikiran (liar). sedangkan untuk menolak lintasan pikiran yang menyibukan adalah dengan membebaskan diri dari sebab-sebab yang membuat tertarik kepadanya.

Tak’dzim (rasa hormat)akan hadir dari ma’rifah kepada keagungan dan kemuliaan allah. siapa yang tidak di yakini keagungannya maka jiwa tidak akan mau menganggungkannya. buah dari ma’rifah ini akan menghasilkan kehusyu’(tunduk) kepada allah. selain ma’rifah tersebut, penyebabtimbul rasa hormat juga di sebabkan oleh ma’rifah akan kehinaan dirinya, karena tidak mempunyai kuasa apa-apa buah dari ma’rifah ini menghasilkan rasa pasrah dan tidak berdaya. rasa pasrah tidak berdaya akan menghasilkan rasa hormat.

Haibah (rasa takut dan rasa hormat) rasa takut merupakan keadaan jiwa yang lahir dari ma’rifah akan kekuasaan allah, hukum-Nya, peNgaruh kehendaknya kepadanya padanya. allah pun seandainya mengancurkan orang-orang terdahulu dan kemmudian, tidak akan berpengaruh terhjadap kerajaa-Nya semakin dalam pengetahuan terhadap allah menjadikan semakin takut kepadanya.

Raja’ (harap) harap akan muncul karena telah adanya keyakinan terhadap janji-janji allah dan pengetahuan tentang kelembutannya, keindahan ciptaannya, keluasaan nikmatnya.

Haya’(rasa malu) rasa malu akan muncul melalui persaan rasa kekurangan dalam beribadah dan pengetahuaannya akan ketidak mampuannya dalam menunaikan hak-haknya.

1.      Meng-sinergi-kan shalat.

Penegakan shalat harus di awali dengan sebuah pengetahuan tentang hal-hal yang menyertainya. karena amal sedikit ilmu pengetahuan, adalah lebih baik dari pada amal banyak penuh kebodohan, sehingga pengetahuan mendalam tentang sarat, rukun termasuk adab lahir maupun batin menjadi hal mutlak, bila ingin menapaki “perjalan dalam shalat”.

Wudhu merupakan tahap pendahuluan dalam proses”penyucian yang agung” dengan menggunakan “air yang merupakan rahasia kehidupan dan hidup itu sendiri”. laksana proses penyucian yang dilakukan jibril kepada rasullah dengan menggunakan air suci “zamzam” dengan membelah dada hingga hilang segala hasud sang hatipun begitu begejolak untuk mendatanginya, sekalipun dengan “merangkak karena begituh menggelora keinginan rindunya, untuk mendatangi pertemuan dengan sang kekasih”

Dengan berpakaian “tawadhu” dan membuang pakaian-pakaian “kesombongan” si hamba pun tertatih tatih melangkah kehalaman “tempat pertemuan” dengan penuh kegelisahan “akan tertolaknya penghadapannya, ” dan rasa malu yang begituh tinggi atas ditutupnya keburukan-keburukan pengrangai dan pentindak lakunya, dengan pakaian “ hijab malakut” oleh sang kekasih’nya. sehingga orang lain tidak mengetahui kejelekannya.

Hal yang diatas mulai dari peristiwa agung yang mengawali perintah “ shalat” dari allah SWT kemudian dilanjutkan dengan apa yang di sebut proses “pembersih diri” yaitu wudhu dari adab batin menuju wudhu sampai proses wudhu itu sendiri dengan menitik beratkan kepada proses penyucian dari noda-noda batin manusia. setelah tahap penyucian kemudian mulialah tahap persiapan menuju pertemuan agung sendiri, di mulai dari berbagai persiapan menuju shalat seperti saay adzan dan ikomah pakain dalam shalat bebagai penutup aurat batin lahir, tempat pelaksanaan shalat serta kiblat dalam shalat

Setelah hal tersebut terpenuhi, barulah mulai menuju tahap-tahap dalam perjalanan terindah menuju Allah yaitu shalat. Diawali dengan “qiyam”yang merupakan simbol lurus sesuai syari’ah dan tetep istiqomah tidak terganggu godaan kanan kiri, sampai peristiwa salam, yakni ketika kita kembali setelah melalu berbagai tahapan perjalanan.

Dengan rangkaian perjalanan terindah dalam “shalat” telah terjalani, namun perjalanan yang sesungguhnya adalah perjalanan disetap garakan nafas sang hamba, karena hakikat waktu dalam hidup ini adalah”nafas kita saat ini” nafas yang telah kita hirup adalah masa lampau, nafas saat ini “adalah hidup kita” nafas berikutnya “ karena sesungguhnya hidup kita terdiri dari nafas satu ke nafas yang lain, maka selalu memohon perlindungan Allah dalam setiap tarikan nafas adalah hal yang mutlak diperlukan, itulah mengapa para guru-guru kita senantiasa menjaga kesucian dzohir dan batin di setiap waktu karena setiap tarikan nafas adalah “ sebuah perjalanan yang tiada akhir untuk bertemu illahi Rabbsi” (Direktorat Pendidikan Madrasah, Depag RI, 2007, Model, KTSP Madrasah Ibtidaiyah, Jakarta Depag. )

B.     MEYAKINI RUKUN IMAN

1.      Iman Kepada Allah

Keyakinan bahwa tiada tuhan selain Allah(la ilaha ilallah)adalah sikap Tauhid. Tauhid (tawhid)yang berasal dari kata wahhada-yuwahhidu bermakna pengesaan Allah. pengesaan allah yang di dalam Al-Qur’an di lambangkan dengan kalimat Laillaha perlu di jabarkan. penjabaran nya harus berlandaskan ayat Al-Qur’an juga bukan kira-kira.

Untuk itu kita melihat relasi(nisbah)antara surat al-fatihah sebagai bab pendahuluan dengan surat An-nas sebagai bab penutup Al-Qur’an, karena pada lazimnya, setiap karya tulis terutama karya-karya ilmiah pasti terhadap hubungan surat Al-fatihah, yaitu :

Yang artinya: Dengan menyebut nama allah yang maha pemurah lagi maha penyayang. segala puji bagi allah, Tuhan semesta alam. maha pemurah lagi maha penyayang. yang menguasai di hari pembalasan. hanya engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan)mereka yang di murkai dan ( jalan) mereka yang di murkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. ( QS. Al-Fatihah/1:1-7)

Sedangkan surat An-nas adalah:

Yang artinya: Katakanlah: “aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, sembah manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membiasakan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. Al-Naas/114:1-6).

Di dalam Al-fatihah terdapat kalimat yang relevan dengan beberapa kalimat yang terdapat pada surat An-Nas yaitu sebagai berikut: (1) Rabbul ‘alamin, -Rabbunnas (2) Maliki yaumiddin –Maliki nas (3) iyyaka na’budu –ilahinnas. ini melahirkan taksonomi tauhid yakni Tauhid rubbiyah, Tauhijd Mulkiyyah dan Tauhid Uluhiyah. Tauhid Rubbiyah ialah meyakini Allah sebagai satu-satunya Rabb(pencipta dan pengatur) manusia. Tauhid Uluhiyyah ialah meyakini bahwa hanya Allah–lah satu-satunya ilah atau Tuhan yang wajib di sembah. manusia hanya mengabdi kepada Allah, manifsetasinya antara lain melakukan segala sesuatu semata-mata dengan niat beribadah kepada Allah. Mengabdi kepada selain Allah adalah syirik Uluhiyyah.

Dasar Beriman Kepada Allah ada 3 hal yang menjadi dasar beriman kepada allah, yaitu sebagai berikut:

  1. Kecenderungan dan pengakuan hati
  2. Al-Qur’an atau wahyu Allah
  3. Al-Hadist atau petunjuk Rasullah

2.      Kitab Allah

apakah yang dimaksud dengan kitab-kitab Allah ?Allh memberikan petunjuk-Nya kepada manusia dari waktu ke waktu. Petunjuk ini di sampaikan kepada umat manusia melalui Nabi-nabi Allah. petunjuk itu berisi hukum-hukum bagi kehidupan kita sehari –hari. Hukum dan peraturan ini disebut kitabullah. kita harus percaya pada semua kitab Allah.

Kitab-kitab apa yang di ketahui oleh kita? Kitab –kitab yang di kenal dengan baik adalah sebagai berikut: Al-Qur’an adalah kitab yang terakhir dan sempurna. Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi suci Muhammad Saw. Al-Qur’an diwahyukan selama 23 tahun sedikit demi sedikit. Taurat di berikan kepada nabi Musa (Moses) as. Mazmur atau Zabur di berikan kepada Nabi Daud (David) as. perjanjian baru atau injil di berikan kepada Nabi isa (yesus) as. Mushaf di berikan kepada nabi Ibrahim (Abraham) as.

Beriman kepada kitab-kitab Allah yaitu Membenarkan dengan sebenar-benarnya bahwa semuanya yang diturunkan dari sisi Allah SWT dan sesungguhnya Allah berbicara dengannya secara nyata, dan ada juga yang mendengar di balik hiab tanpa menggunakan perantara dari malaikat.


 3.      Percaya pada Malaikat Allah

Beriman kepada malaikat yaitu memantapkan keyakinan bahwa mereka ada wujudnya dan Bahwa mereka adalah Makhluk Allah yang terjaga dan terpelihara.

Yang artinya: Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha suci Allah. sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang di muliakan. (QS. Al-Anbiya’/21:26-27)

kata Malaikat ( ا لملا ئكلة) menurut Qurairah shihab, terambil dari kata la’aka (كلا) yang berarti “mengutus”, sehingga bentuk tunggalnya, yakni malaka (ملك) pada asalnya adalah mal’ak (ملا ك ), kemudian kata terakhir ini pun mengalami perubahan sehingga pada akhirnya menjadi kata perubahan sehingga pada akhirnya menjadi kata malak(ملك). Namun dalam bentuk jamaknya, asal kata tersebut tetap di pertahankan kecuali tambahan ta’ marbuthah(ة) sebagai tanda “banyak”, dan menjadilah malaikat.

Jumlah malaikat itu banyak sekali. Malaikat yang wajib di ketahui hanya sepuluh saja yaitu:

1)      Malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu kepada utusan Allah adalah Rahul Quds Malaikat Jibril as.

2)      Malaikat yang bertugas mengatur turunnya hujan Mikail,

3)      Malaikat yang bertugas meniup terompet adalah Israfil,

4)      Malaikat pencabut nyawa yaitu Izrail,

5)      Malaikat pencatat amal perbuatan manusia yaitu Rakib dan ATID

6)      Malaikat penjaga hamba di kiri kanan dan belakang depan yaitu al- Muakibat

7)      Malaikat penjaga jannah yaitu Ridwan

8)      Malaikat penjaga neraka yaitu Malik

9)      Malaikat penjaga kubur yaituu Munkar dan Nakir

10)  Malaikat yang bertugas menetapkan ketentuan Allah pada janin dalam kandungan, para malaikat yang masuk di baitul makmur sebanyak 70 ribu dan tidak kembali lagi, para malaikat yang selalu mengikuti di majelis-majelis dzikir. Mereka ada yang berbaris dan berdiri, ada yang ruku dan sujud terus menerus dan masih banyak lagi.

4.      Iman pada Rasul

Para nabi merupakan orang yang di beri wahyu (ajaran islam yang mengandungi peraturan tertentu) oleh Allah sebagai panduan hidup. Nabi berasal dari kata naba’a adalah penyampaian berita. Nabi tidak memiliki umat. Sementara rasul adalah nabi yang di perintahkan Allah untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada manusia sejagat pada zamannya. Rasul dan nabi terakhir ialah Nabi Muhammad yang di tugaskan untuk menyampaikan islam dan peraturan yang khusus kepada manusia hingga hari kiamat. Selepas kewafatanya, tugasnya itu di sambung oleh orang islam yang menjadi pengikutnya. sebagai seorang islam, kita perlu patuh kepada rukun iman yang kedua yaitu percaya kepada para nabi dan para rasul.

Jumlah rasul di dunia ini berjumlah 313 Rasul. sedangkan jumlah para Nabi yaitu 140. 000 Nabi. sedangkan yang wajib kita ketahui dari jumlah para Nabi yang sekaligus Rasul ada 25 orang. yaitu:

1)      Nabi Adam a. s/Adam

2)      Nabi Idris a. s/ Anoch

3)      Nabi Nuh a. s/Noah

4)      Nabi Hud a. s/Hud

5)      Nabi Salih a. s/Salih

6)      Nabi ibrahim a. s/Abraham

7)      Nabi Luth a. s/Lot

8)      Nabi Ismail a. s/ishmeal

9)      Nabi ishaq a. s/isaac

10)  Nabi ya’kub a. s/jacob

11)  Nabi yusuf a. s/joseph

12)  Nabi Ayub a. s/job

13)  Nabi Syu’aib a. s/Shahih

14)  Nabi Musa a. s/Moses

15)  Nabi Harun a. s/Aaron

16)  Nabi Zulkifli a. s/Exekiel

17)  Nabi Daud a. s. /David

18)  Nabi Sulaiman a. s/soloman

19)  Nabi ilyas a. s/Ilias

20)  Nabi ilyasa’ a. s/ Elisha

21)  Nabi yunuz. a. s. jones

22)  Nabi Zakaria a. s/Zakaric

23)  Nabi yahya a. s/john

24)  Nabi isa a. s/jesus

25)  Nabi Muhammad s. a. w/Mohammed

5.      Iman kepada Hari Akhir.

“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”. (QS. Muthaffiffin (83):10-17).

Orang beriman meyakini bahwa suatu saat nanti akan datang suatu hari dimana manusia harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dikerjakannya selama hidup didunia. Itulah hari Kiamat, hari Pembalasan, hari dimana dihitung dan ditimbang mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk.

“Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (QS. Al-Haaqqah(69):13-18).

“Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan ”. (QS. Al-Qariah(101):3-5).

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya”. (QS. Al-Zalzalah(99):1-5).

Begitu banyak ayat yang menerangkan keadaan pada Hari Kiamat nanti. Dimulai dengan ditiupnya sangkakala, maka mati dan binasa semua yang berada di langit maupun di bumi. Kemudian terdengar sekali lagi sangkakala yang ditiup, kemudian semua manusia yang telah mati akan dibangunkan kembali untuk mempertanggung-jawabkan apa yang mereka telah lakukan di bumi ini.

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscayadia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al-Zalzalah(99):6-8). (http://vienmuhadisbooks. wordpress. com/2010/07/09/ii-1-meyakini-rukun-iman)

6.      Percaya Kepada Takdir

Takdir adalah suatu ketapaan akan garis kehidupan seseorang. setiap orang lahir lengkap dengan skenario perjalanan kehidupannya dari awal dan akhir. Hal ini di nyatakan dalam Qur’an bahwa segala sesuatu yang terjadi terhadap diri seorang sudah tertulis dalam induk kitab.

Umat islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus di imani sebagaimana di kenal dalam rukun iman. penjelasan tentang takdir hanya dapat di pelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al-Qur’an dan Al hadist. secara keilmuan umat islam dengan sederhana telah mendefinisikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.

Untuk memahami konsep takdir, umat islam tidak dapat melepaskan diri dari menjalani hidup di dunia ini, di perintahkan oleh allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. usaha perubahan yang di lakukan oleh manusia itu, kalu berhasil seperti yang di inginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. bahkan sekiranya usahanya itu dinilainya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menggap hal itu sebagai kesombongan yang di larang juga sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hadid/57:23)

Yang artinya : (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang di berikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al Hadid/57:23)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s